31 de Julio de 2002
"SAYA SAMA SENSITIFNYA DENGAN BETTY"

Siapa sih yang tak kenal Betty La Fea? Begitu populernya tokoh ini di berbagai negara sampai-sampai presiden Kolombia menyebut-nyebut nama Betty dalam pidatonya. Beruntung, NOVA akhirnya dapat melakukan wawancara tertulis dengan sang pemeran, Ana Maria Orozco.Ketika Yo Soy Betty La Fea (YSBLF) ditayangkan di negara asalnya, Kolombia, telenovela ini langsung digemari. Bahkan ia menjadi telenovela paling ditunggu-tunggu. Bukan itu saja. Di berbagai festival film, beberapa artisnya berhasil menyabet beberapa penghargaan.

Menurut Fernando Gaitan, sang penulis cerita, pernah bilang, sosok perempuan seperti Betty ada banyak di negaranya. Contohnya saja, kata Fernando, di stasiun teve tempat YSBLF ditayangkan pertama kali, banyak sekali karyawati berwajah biasa yang sering bertemu artis-artis cantik. Nah, mereka pun, menurut Fernando, pasti pernah bermimpi ingin secantik artis-artis itu.

Adalah Ana Mario Orozco, putri sulung sutradara terkenal Luis Fernando Orozco yang lantas terpilih menjadi wakil dari wanita-wanita itu. Ya, ia dipercaya memerankan Betty setelah melalui serangkaian seleksi. "Ada beberapa aktris yang ikut casting. Dan ternyata sayalah yang dipilih memerankan Betty," ujar Ana.

PUNYA BANYAK PERSAMAAN
 
Ana sudah menduga perannya sebagai Betty akan berprospek cerah. "Sewaktu saya baca scriptnya, saya tahu saya akan jadi pemegang peran utama. Saya sangat senang bisa mendapatkannya. Saya selalu berpikir Betty akan menjadi karakter yang selalu diingat," kata Ana.

Pertimbangan Ana yang lain, karakter tokoh yang dimainkannya begitu kuat dan ceritanya sarat humor. "Saya, kan, suka komedi. Berhubung kisah Betty La Fea banyak humor, saya jadi masin menyukainya," tandas Ana. Maklum baru lewat YSBLF, Ana bisa mendapat kesempatan jadi pemeran utama. "Jadi pasti banyak hal baru yang harus saya lakukan dan saya yakin itu menarik," ujarnya.

Betty memang menduga, telenovelanya bakal digemari dan sukses. "Tapi sungguh saya enggak menduga kalau Betty juga digandrungi di negara-negara lain," kata Ana yang mengaku mudah memerankan Betty lantaran tak ada perbedaan dengan dirinya. "Kami justru punya banyak kesamaan, kok," begitu tandas Ana.

Kesamaan seperti apa? Ana pun memerinci, "Saya sama sensitifnya dengan dia. Seperti Betty, saya juga suka kejujuran. Betty adalah orang yang jujur, pintar, dan sangat pandai menyenangkan dirinya sendiri."

TENTANG KAWAT GIGI

Soal dandanan, Ana tak pernah merasa kerepotan saat harus "dipermak" menjadi si buruk rupa Betty. Penampilan unik ini menurut Ana tidaklah sulit untuk pengerjaannya. "Sederhana saja. Rambut panjang saya ditata. Diikat setengah ke belakang dan disisakan untuk poni. Rambut panjang untuk poni ditekuk ke belakang. Baru pakai kacamata berbingkai besar dan kawat gigi," papar Ana.

Jangan salah, selain prosesnya tidak ribet, Ana juga mengaku nyaman- nyaman saja dengan riasan sebagai Betty. "Kawat gigi saya bisa dilepas pakai, kok. Dan semua dandanan itu cuma saya pakai di lokasi syuting. Tidak ada alasan memakainya di luar syuting. Jadi, orang enggak pernah memandang saya aneh juga."

Baik riasan maupun tata rambut sebagai Betty dikatakan Ana tidak merusak penampilannya. "Rambut dan kulit saya baik-baik saja," cetus Ana yang seumur-umur dalam kehidupan sehari-hari belum berkawat gigi ini. Meski begitu ia tidak punya pikiran buruk tentang kawat gigi. "Kawat gigi itu simbol dari pertumbuhan. Ketika orang menggunakan kawat gigi, semua orang tahu si pengguna sedang dalam masa peralihan. Jadi, enggak perlu minder menggunakannya," kata Ana.

Ditambahkan Ana, kendati Betty dikenal juga lewat kawat giginya, namun di Kolombia kawat gigi tidak pernah jadi trend fashion. "Buktinya, setelah saya memerankan Betty pun enggak banyak orang ikut-ikutan memakainya," kata Ana yang tidak pernah berlatih khusus untuk membuat suara Betty yang cempreng. "Suara Betty memang aneh. Tapi tidak perlu latihan khusus. Itu mudah dilakukan, kok. Intinya Betty itu karakter yang mudah dimainkan. Manis dan lucu," nilainya.

BELAJAR SENI DAN BAHASA INGGRIS

Setelah main YSBLF, Ana akan ikut bermain dalam Ecomoda, serial lanjutan dari YSBLF. "Ceritanya hanya pengembangan dari Betty. Di sana ada satu tokoh tambahan, yakni anak Betty dan Armando," kata Ana.

Kalau ditotal, Ana main dengan kawan-kawannya di YSBLF lebih dari dua tahun. "Waktu yang cukup lama. Tentu saja banyak hal terjadi antara kami. Kami di sana bersatu untuk bekerja sama, karena itu kami berteman dekat satu sama lain," ucap Ana yang sangat terkesan dengan tokoh Betty di antara semua peran yang pernah ia mainkan.

Di Kolombia, YSBLF sukses berat. "Betty jadi pembicaraan di negara saya. Banyak artikel penting di surat kabar menulis soal Betty. Bahkan waktu presiden kami berpidato, beliau juga menyinggung tentang Betty. Rasanya enggak berlebihan kalau saya bilang Kolombia cinta Betty," ujar Ana yang mengaku enggak pernah berubah.

"Betty tidak mengubah hidup saya," lanjut Ana. "Setelah memainkan Betty pun, saya tetap Ana yang dulu. Mungkin betul saya sekarang lebih dikenal di banyak tempat, bahkan di tempat dimana saya enggak pernah mengunjunginya sekalipun. Tapi percayalah, saya tetap orang yang sama."

Bisa jadi karena Ana sudah mulai berkarier di depan kamera sejak muda. "Saya sudah main film sejak saya masih sangat muda. Kebetulan ayah juga seorang aktor dulunya. Jadi kehidupan menjadi aktris berjalan dengan alami dalam diri saya," tandasnya.

Bagi Ana yang sudah bermain dalam banyak film dan serial, semua karakter istimewa baginya. "Tapi memang betul Betty-lah yang paling mengesankan," tegasnya kembali. Terlebih, sejak memerankan Betty ia terus kebanjiran banyak tawaran bermain dalam beberapa telenovela. " Tapi saya baru meninjaunya. Belum memutuskan mana yang akan saya ambil untuk saya mainkan."

Maklumlah, kini Ana sedang sibuk dengan studinya di sebuah universitas di New York, Amerika. "Saya ikut kursus selama tiga bulan ini. Di sana saya mempelajari bahasa Inggris dan seni," kata mantan istri Julian Arango yang kini sedang membina hubungan istimewa dengan seorang fotografer terkemuka ini.

Fuente : Revista Nova de Indonesia Regresar a Reportajes